Senin, 26 April 2010

cerita a9

Di kelas 10 C.

BLETAK~
Sebuah penghapus terbang lalu mendarat di kepala Saga. Seluruh murid menengok ke arah Saga yang terbangun setelah ‘dilempar’ penghapus oleh Bu Lili.
“Saga!! Cuci muka sana!” Teriak Bu Lili.
“Baiklah, ibu.” Jawab Saga tanpa ekspresi dan nada suara bersalah.

Saga pun keluar dari kelas menuju kamar mandi. Ketika melewati koridor kelas, dia melihat pintu-pintu kelas yang terbuka. Dan dia melihat kelas 10 A, Shou dan Hiroto duduk sebangku di bangku yang paling depan. Mereka berdua tidak menyadari kalau Saga lewat di depan kelas. Saga pun tidak menghiraukan mereka.

Saga berjalan dengan lambat sekali dan dia berjalan dengan tatapan yang mengarah di sepatunya (alias di bawah). GUBRAK~ Saga menabrak seorang cewek sampai cewek itu jatuh terduduk di lantai dan buku-buku yang dibawanya berantakan nggak karuan di lantai.
“Haduh, gimana sih jalannya!” Teriak cewek itu melotot ke arah Saga.
“Ya sorry! Gue kan masih di bawah pengaruh mimpi jadinya masih ngantuk.” Balas Saga.
“Di bawah pengaruh mimpi? Kayak orang mabuk aja di bawah pengaruh alkohol.” Cewek itu mulai sewot lalu berdiri dan membenahi pakaiannya.

Saga hanya berdiri terpaku memandangi cewek itu membereskan buku-buku yang berserakan di lantai.
Cewek itu melirik Saga, “Daripada bengong mending bantuin gue beresin buku kenapa??” Kata cewek itu sengit.
“Iye iye nenek.” Kata Saga tanpa merasa bersalah (lagi).

Setelah selesai membereskan buku, Saga sempat melirik nama di atas saku baju seragam cewek itu. Mereka berdua berdiri lalu cewek itu meninggalkan Saga begitu saja lalu berjalan menuju ke arah yang berlawanan. Saga melihat dimana cewek itu masuk ke kelas dan ternyata di kelas 10 A.
“Ohh, temennya Shou-kun.” Kata Saga mengangguk-angguk lalu kembali berjalan menuju kamar mandi.

Di kelas 10 A.

“Ahh~ Terima kasih Ichi sudah mengambilkan buku tugas teman-teman ya.” Kata Pak Deny.
“Sama-sama pak.” Ichi tersenyum lalu meletakkan buku-buku yang dibawanya di atas meja Shou dan Hiroto. “Bagikan sana!” Ichi memerintahkan Shou dan Hiroto membagikan buku-buku itu.

Tanpa membantah, Shou dan Hiroto membagikan buku-buku itu ke teman-temannya. Ichi pun kembali ke tempat duduk.
“Mata pelajaran Bahasa Inggris hari ini mungkin hanya berlangsung selama satu jam.” Kata Pak Deny.
“Lho?? Kenapa pak?” Terdengar suara murid-murid yang kecewa karena sebenarnya mapel bahasa inggris adalah 2 jam.
“Saya itu sebenarnya sedang sibuk beres-beres perpindahan rumah jadi ya harus bantuin istri donk. Kasian kan masa istri saya aja yang beres-beres.” Jelas Pak Deny.
“Ohh~” Paduan suara pun terdengar.

Ketika Pak Deny menjelaskan, Shou towel-towel pinggul Hiroto.
“Hah? Ada apa?” Hiroto menengok ke arah Shou.
“Akhirnya mapel bahasa inggris kosong.” Muka Shou sumringah banget.
“Halah.” Hiroto sok rajin memerhatikan Pak Deny.
“Nanti maen final fantasy game ya ama gue, pon~” Pinta Shou.
“Oke oke.”

Di kelas 10 C.

Jam pertama adalah matematika. Kelas pun sangat sepi saking memperhatikannya murid-murid sama mapel yang satu ini. Nao pun terlihat antusias memperhatikan Bu Karin menjelaskan logaritma. Di tengah pelajaran…
“Lo antusias banget sih sama bab logaritma. Berarti lo sekarang udah bisa?” Tanya Kei yang duduk di sebelah Nao.
Selang beberapa menit… “Gue tetep kagak mudeng ama bab logaritma dari SMP sampe sekarang” Nao menenggelamkan mukanya di atas meja.
“Mending lo cuma nggak tau logaritma, nah gue semua bab matematika.”
“Nggak tau semua bab matematika? Tapi kok lo bias dapet ranking kedua semester pertama kemaren.” Kata Nao sengit.
“Soal semesteran lebih gampang daripada mid sih menurut gue. Tau sendiri kan pas mid gue nggak dapet ranking. Malah yang dapet ranking lo, ranking pertama terus lagi dari mid sampe semesteran kemaren.” Balas Kei sengit.

Karena mereka berdua terlalu berisik Bu Karin memperingatkan, “Nao.. Kei.. Tolong jangan bertengkar di saat pelajaran.”
“Ahh??” Mereka berdua kaget karena suara Bu Karin kenceng banget. “Baik bu.” Nao dan Kei tersenyum manis.

Lalu pelajaran pun kembali seperti semula.
“Gara-gara elu sih, Kei. Jangan ajak gue ngomong deh pas mapel matematika. Gue paling males sebenernya ama nih mapel.” Kata Nao.
“Iye maaf, pooh~” Kata Kei.

Di kelas 10 D.

Jam pertama murid 10 D adalah olahraga. Cowok-cowok pada maen sepak bola sedangkan cewek-cewek pada maen basket. Mereka maen seenaknya karena sebenarnya olahraga hari ini kosong tapi terlanjur bawa baju olahraga. Yah, jadinya mereka nekat praktek olahraga di lapangan.
“Tora!! Tora!! Oper!!” Teriak cowok-cowok minta oper bola dari Tora.

Tora mengoper bola ke Jun dan akhirnya…
“GOL!!!!!” Temen-temen dari tim Tora menari-nari nggak karuan tapi sayang~ Tora nggak ikutan.
“Gue udahan ya? Gue uda laper tadi belon sarapan.” Pinta Tora.
“Lho~~” Lagi-lagi paduan suara. “Kan jamnya belon kelar ini.” Kata Jun selaku ketua kelas.
“Hasyahh~ Pokoknya gue laper! Nggak ada yang bias ngehalangin gue!” Tora ngacir ke kantin.
“Yah~~” Keluh teman-teman.

Di lapangan basket cewek-cewek sibuk mencari nilai untuk memenangkan tanding basket yang sudah disetujui kalau tim yang menang dapet traktiran dari tim yang kalah. Rarui yang tidak bisa ikut maen merasa kecewa dan menyesal karena kakinya keseleo tadi waktu ganti baju olahraga gara-gara kepleset di kamar mandi.
“Gembel nih kaki senut-senut terus dari tadi.” Rarui mijit-mijit kakinya dengan minyak urut. “Ahh~ kabur aja deh ke kantin. Tempat peraduan paling tepat untuk saat ini daripada di kelas sendirian.” Rarui pergi ke kantin.

Sesampainya di kantin, Rarui melihat Tora yang sedang asyik menikmati bakso sambil maen PSP.
“Heh Tora! Lo kok nggak maen sepak bola sih ama yang laen? Malah enak-enakan makan.” Tanya Rarui sambil berjalan terpincang-pincang.
“Terserah gue donk.” Jawab Tora tanpa menghiraukan Rarui dan tetap asyik maen PSP.

Rarui memonyongkan bibirnya lalu memesan makanan. Tanpa diketahui Rarui, Tora tadi sempat meliriknya waktu monyong. Dan Tora cuma bisa menahan tawanya sambil senyam-senyum maen PSP.

Setelah memesan makanan, Rarui duduk berhadapan dengan Tora.
“Heh, jelek! Gue baru inget kalo lo kemaren pinjem catatan IPS gue kan? Ntar dibalikin lho! Awas kalo nggak.” Ancam Rarui.
“Iye, bawel!” Jawab Tora masih terpaku di layer PSP.
“Nge-game aje lo kerjaannye.” Sindir Rarui sambil mijit-mijit kakinya yang keseleo. “Huaduuhh~” Umpat Rarui ketika mengurut kakinya yang keseleo.
“Lo ngapain sih? Kok bau minyak urut gini jadinya?” Tora mengendus-endus.
“Gue keseleo bego!” Mata Rarui berkaca-kaca.

Tora yang melihat Rarui hampir menangis jadi nggak tega. Tapi dia lebih berat ninggalin PSP daripada bantuin Rarui sih, nggak jadi ngebantu deh.
NB: Rarui dan Tora sering berantem.

“Ini, pesanannya.” Kata bu Kantin mengantarkan pesanan Rarui.
“Terima kasih, ibu.” Balas Rarui dengan suara lembut.

Suara Rarui yang lembut membuat Tora heran karena tiap ketemu Rarui yang ada cuma teriak-teriak nggak karuan. Mereka berdua tidak lagi saling mengejek dan hanya diam. Tiba-tiba handphone Rarui bunyi lalu dia pun langsung mengangkatnya.
“Halo? Ada apa onii?” Tanya Rarui sambil makan soto.
“Hehehe, iya tadi Rui jatoh kepleset terus keseleo. Pasti Jun ya yang ngadu?” Rarui menebak-nebak sambil malu-malu.
“Jun itu temen Rui kok onii. Pacar Rui kan cuma onii, hahaha. Bisa-bisa ditimpuk panci ama Rin-san.”

Rarui asyik telepon dengan kakaknya dan tanpa sengaja Tora mendengar semua ucapan Rarui dengan pura-pura masih serius maen PSP.
“Udah ya onii. Rui mau ke kelas dulu. Kayaknya temen-temen uda selesai deh olahraganya. Ja ne~” Rarui mematikan teleponnya.

Tiba-tiba Jun datang, “Rui~ Wah Tora juga~ Lagi asyik berduaan nih.” Jun duduk di sebelah Rarui.
“Jelaslah berduaan lah. Orang cuma gue ama Rarui doank disini. Kalo bertigaan ato berempatan malah aneh kan.” Jawab Tora sewot lalu memasukkan PSP-nya ke saku.
“Biasa aja kali.” Kata Rarui dengan nada datar.
“Sudah jangan berantem. By the way tadi gue ngadu ke onii-nya Rui nggak apa-apa kan?” Tanya Jun.
“Nggak apa-apa lah.” Kata Rui menepuk bahu Jun. “Gue mo balik ke kelas dulu ye. PR biologi belon gue kerjain. Da daaaa~” Rarui langsung ngacir ke kelas.
“Rui itu siapanya elu sih?” Tiba-tiba Tora tanya.
“Adik kelas gue waktu SMP. Rui tuh dulu waktu SMP kan akselerasi jadi dia sekarang umurnya masih 14 tahun.” Jawab Jun.
“Masih kecil amat?”
“Kecil-kecil gitu otaknya setara ama Nao andalan kelas sebelah.”
“Iya sih. Sama-sama jeniusnya. Tapi Rui itu jarang ngerjain PR di rumah ya?”
“Ya begitulah Rui.” Jun tersenyum.
Tora cuma mengangguk-angguk, “Paling asyik deh berantem ama Rui.”
“Hahaha” Jun tertawa.

Jam pelajaran pun selesai. Murid-murid kembali ke rumah masing-masing. Rarui yang kakinya cedera kebingungan gimana caranya pulang naek sepedanya. Kepanikan pun dialami Rarui.
“Onii masih kerja. Gue pulang naek apa?” Mata Rarui mulai berkaca-kaca.

Kelas 10 D masih ramai karena ada beberapa yang belum pulang. Rarui lesu sekali dan menenggelamkan mukanya di siku tangannya yang terlipat di atas meja.
“Bareng gue aja gimana?” Tiba-tiba Tora duduk di samping Rarui.
“Rumah lo ama rumah gue perasaan berlawanan arah deh.” Kata Rarui yang masih menenggelamkan mukanya.
“Ya kan ntar bisa puter balik.”
“Ikhlas nggak lo? Jangan-jangan minta ganti bensin?”
“Enak aja. Bensin mah gue bisa beli sendiri. Mau nggak?”
“Mau~~” Rarui mengangkat kepalanya lalu tersenyum bahagia. “Tapi sepeda gue gimenong?”
“Titipin ama penjaga sekolah donk.”

Bagaimana kisah selanjutnya?? –to be continue-

Leave comment please >///
by Kohara-Tarra Tetsuya Takaraiichi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar